Deru kendaraan bersahutan sejak pagi di kawasan Kopo, Kota Bandung. Klakson bersahut-sahutan, memecah kesabaran para pengendara yang terjebak dalam laju kendaraan yang nyaris tak bergerak.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar rutinitas. Namun bagi Rafli, warga yang telah lebih dari dua dekade tinggal di kawasan tersebut, kemacetan di Kopo adalah cerita panjang tentang waktu yang kerap tersita di jalan.
“Kalau aktivitas di sini, jam 7 pagi itu sudah pasti macet. Sore di atas jam 3 juga sama,” ujar Rafli kepada AyoBandung.com, Rabu, 17 April 2026.
Kemacetan di Kopo telah lama menjadi stigma, bahkan bagi masyarakat di luar kawasan tersebut. Sebagai salah satu jalur penghubung dari wilayah Kabupaten Bandung menuju pusat kota, arus kendaraan di kawasan ini nyaris tak pernah benar-benar lengang.
Meski begitu, Rafli menilai anggapan bahwa Kopo selalu macet tidak sepenuhnya tepat.
“Pernah juga hari Senin pagi itu tidak macet sama sekali. Jadi sebenarnya tidak setiap hari macet, tapi memang lebih sering macet,” katanya.
Bagi Rafli, kemacetan bukan sekadar soal padatnya kendaraan, melainkan persoalan waktu yang terbuang dan tenaga yang terkuras.
Ia masih mengingat pengalaman yang sulit dilupakan. “Paling sebentar itu setengah jam. Tapi pernah dari perempatan Kopo ke rumah, jaraknya cuma sekitar satu sampai dua kilometer, itu sampai tiga jam,” ungkapnya.
Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat atau berkumpul bersama keluarga justru habis di tengah kemacetan.
Selain kemacetan, banjir juga menjadi persoalan yang kerap muncul di kawasan Kopo. Meski tidak terjadi setiap kali hujan turun, beberapa titik tetap menjadi langganan genangan air.
“Kalau hujan besar, baru biasanya terdampak banjir. Di beberapa titik pasti ada,” jelas Rafli.
Ia menyebut wilayah seperti Cirangrang relatif lebih aman, namun saat intensitas hujan meningkat, kondisi dapat berubah dengan cepat hingga ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa dan menghambat aktivitas warga.



