Meskipun bayang-bayang musim kemarau mulai mendekat, wilayah Bandung Raya saat ini masih berada dalam pusaran cuaca ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa potensi hujan lebat disertai angin kencang masih akan terjadi di tengah prediksi awal musim kemarau yang datang lebih awal dan bersifat lebih kering dibandingkan kondisi normalnya.
Dalam sepekan terakhir, Kota Bandung dilanda serangkaian kejadian darurat akibat cuaca ekstrem.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa situasi ini sudah mendekati kategori bencana.
Ia mencatat terdapat ratusan pohon tumbang di seluruh Bandung Raya hanya dalam waktu satu minggu.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Bandung bersama Satuan Brimob mengintensifkan patroli untuk memangkas pohon yang berpotensi tumbang serta memperkuat mitigasi melalui program Siskamling Siaga Bencana.
Pemicu Dinamika Atmosfer
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem ini dipicu oleh masa peralihan (pancaroba) yang didukung oleh beberapa faktor atmosfer.
Suhu permukaan laut yang hangat di perairan Indonesia memicu suplai uap air yang tinggi, ditambah dengan aktifnya gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Ekuatorial di atas Jawa Barat.
BMKG memprediksi potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan menghantui wilayah Bandung hingga setidaknya 5 April 2026
Kemarau 2026: Datang Lebih Awal dan Lebih Kering
Di sisi lain, BMKG mengeluarkan peringatan terkait musim kemarau 2026. Berdasarkan analisis model iklim, awal musim kemarau di 66 persen wilayah Jawa Barat diprediksi akan datang lebih cepat dari rata-rata klimatologisnya.
Wilayah Bandung Raya sendiri diprediksi akan mulai memasuki musim kemarau pada periode Mei hingga Juni 2026.



