TINGKAT hunian ruang rawat inap sejumlah rumah sakit di Kabupaten
Bandung Barat naik mencapai 65,70 persen pada September 2026. Peningkatan tersebut didominasi pasien dengan penyakit saluran pernapasan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (
ISPA), pneumonia, dan bronkitis.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung Barat, Enung Masruroh mengatakan, angka keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) tersebut merupakan hasil rekapitulasi laporan dari 10 rumah sakit.
“Berdasarkan laporan dari 10 rumah sakit yang ada di wilayah Bandung Barat, BOR September menyentuh angka 65,70 persen,” kata Enung, Rabu (14/10).
Sedangkan angka untuk bulan ini belum dihitung, karena akan direkap pada akhir Oktober nanti. Enung mengatakan, data tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah lanjutan dalam menjaga kapasitas pelayanan kesehatan di Bandung Barat.
Menurutnya, Dinkes Bandung Barat terus memantau perkembangan tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan bagi pasien dengan gangguan saluran pernapasan.
“Pemantauan dilakukan untuk memastikan kapasitas pelayanan rumah sakit tetap memadai dan masyarakat bisa mendapatkan penanganan medis sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Ia menyatakan, Dinkes juga memperkuat koordinasi sistem rujukan serta mengoptimalkan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Langkah tersebut dilakukan agar pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat tanpa harus seluruhnya bergantung pada layanan rawat inap rumah sakit.
“Rumah sakit yang mengalami tingkat keterisian tempat tidur tinggi kita minta segera menyampaikan langkah mitigasi yang diperlukan. Upaya tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan tempat tidur, ketersediaan tenaga kesehatan, hingga layanan penunjang medis,” tuturnya.
Selain itu, ia memastikan pelayanan kegawatdaruratan tetap berjalan optimal. Hal ini mencakup pencegahan penumpukan pasien di instalasi gawat darurat (IGD), keterlambatan pasien mendapatkan ruang rawat inap, maupun penolakan terhadap pasien yang membutuhkan penanganan darurat.
Lebih jauh, Puskesmas diperkuat untuk memberikan pelayanan sesuai kompetensi, melakukan deteksi dini terhadap penyakit, serta memastikan proses rujukan pasien berlangsung tepat dan aman.
“Pada dasarnya kami berharap peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan dapat diantisipasi dengan baik, sehingga masyarakat tetap memperoleh akses pelayanan medis yang memadai,” jelasnya. (H-3)
Sumber:
https://mediaindonesia.com/jabar/berita/944448/tingkat-hunian-rs-di-bandung-barat-meningkat-didominasi-ispa